Feeds:
Pos
Komentar

Originally posted on disdikkepeglmg:

UNM* Daftarnya download di sini HasilPLPG-Kab.Lamongan

View original

makalah : URUSAN DUNIA

Perselisihan karena perbedaan pemahaman yang terjadi pada zaman kini, boleh jadi dikarenakan segelintir kaum muslim terhasut atau korban ghazwul fikri (perang pemahaman) yang dilancarkan oleh kaum Zionis Yahudi sehingga cara memahami Al Qur’an dan Hadits mengikuti cara  pemahaman  Ibnu Taimiyyah atau pemahaman Muhammad bin Abdul Wahhab.
Mereka memahami Al Qur’an dan Hadits dengan makna dzahir atau yang kami namakan pemahaman dengan metodologi “terjemahkan saja” berdasarkan arti bahasa (lughot) dan istilah (terminologi). Hal ini umum terjadi pada mereka yang memahami agama berlandaskan muthola’ah , menelaah kitab dengan akal pikirannya sendiri.
Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, “Barangsiapa menguraikan Al Qur’an dengan akal pikirannya sendiri dan merasa benar, maka sesungguhnya dia telah berbuat kesalahan”. (HR. Ahmad)
Dari Ibnu Abbas ra Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda…”Barangsiapa yg berkata mengenai Al-Qur’an tanpa ilmu maka ia menyediakan tempatnya sendiri di dalam neraka” (HR.Tirmidzi)
Imam Syafi’i ~rahimahullah mengatakan “tiada ilmu tanpa sanad”.
Al-Hafidh Imam Attsauri ~rahimullah mengatakan “Penuntut ilmu tanpa sanad adalah bagaikan orang yang ingin naik ke atap rumah tanpa tangga”
Bahkan Al-Imam Abu Yazid Al-Bustamiy , quddisa sirruh (Makna tafsir QS.Al-Kahfi 60) ; “Barangsiapa tidak memiliki susunan guru dalam bimbingan agamanya, tidak ragu lagi niscaya gurunya syetan” Tafsir Ruhul-Bayan Juz 5 hal. 203
Ibnul Mubarak berkata :”Sanad merupakan bagian dari agama, kalaulah bukan karena sanad, maka pasti akan bisa berkata siapa saja yang mau dengan apa saja yang diinginkannya (dengan akal pikirannya sendiri).” (Diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Muqoddimah kitab Shahihnya 1/47 no:32 )
Imam Malik ra berkata: “Janganlah engkau membawa ilmu (yang kau pelajari) dari orang yang tidak engkau ketahui catatan (riwayat) pendidikannya (sanad ilmu)”
Asy-Syeikh as-Sayyid Yusuf Bakhour al-Hasani menyampaikan bahwa “maksud dari pengijazahan sanad itu adalah agar kamu menghafazh bukan sekadar untuk meriwayatkan tetapi juga untuk meneladani orang yang kamu mengambil sanad daripadanya, dan orang yang kamu ambil sanadnya itu juga meneladani orang yang di atas di mana dia mengambil sanad daripadanya dan begitulah seterusnya hingga berujung kepada kamu meneladani Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Dengan demikian, keterjagaan al-Qur’an itu benar-benar sempurna baik secara lafazh, makna dan pengamalan“
Dalam memahami Al Qur’an dan Hadits atau berpendapat atau berfatwa harus berdasarkan ilmu. Sanad ilmu yang tersambung kepada lisannya Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dan ilmu untuk memahami Al Qur’an dan Hadits.
Mereka tidak memperhatikan ilmu-ilmu yang bersangkutan dengan bahasa arab itu seumpama nahwu, sharaf, balaghah (ma’ani, bayan dan badi’). Mereka tidak juga memperhatikan sifat lafadz-lafadz dalam al-Quran dan as-Sunnah itu yang beraneka ragam seperti ada lafadz nash, ada lafadz dlahir, ada lafadz mijmal, ada lafadz bayan, ada lafadz muawwal, ada yang umum, ada yang khusus, ada yang mutlaq, ada yang muqoyyad, ada majaz, ada lafadz kinayah selain lafadz hakikat dan lain lainnya.
Contohnya, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam tentu tidak pernah mengatakan bahwa “seluruh bid’ah adalah sesat”. Beliau mengatakan “Kullu Bid’ah dlalalah” sedangkan berdasarkan ilmu atau secara tata bahasa sudah dapat dipahami dengan mudah seperti apa yang disampaikan oleh ulama yang sanad ilmunya tersambung kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam seperti Al-Imam an-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim menuliskan: “Sabda Rasulullah “Kullu Bid’ah dlalalah” ini adalah ‘Amm Makhshush; artinya, lafazh umum yang telah dikhususkan kepada sebagian maknanya. Jadi yang dimaksud adalah bahwa sebagian besar bid’ah itu sesat (bukan mutlak semua bid’ah itu sesat)” (al-Minhaj Bi Syarah Shahih Muslim ibn al-Hajjaj, j. 6, hlm. 154)
Hadits “Kullu Bid’ah dlalalah” berdasarkan ilmu yakni menurut tata bahasanya ialah ‘Amm Makhshush, artinya “makna bid’ah lebih luas dari makna sesat” sehingga “setiap sesat adalah bid’ah akan tetapi tidak setiap bid’ah adalah sesat”.
Slogan mereka memberantas bid’ah namun kenyataannya mereka termakan hasutan atau korban ghazwul fikri (perang pemahaman) yang dilancarkan oleh kaum Zionis Yahudi untuk kembali kepada Al Qur’an dan Hadits melalui pemahaman dengan makna dzahir ,  berdasarkan arti bahasa (lughot) dan istilah (terminologi) sehingga mereka tanpa sadar justru terjerumus menjadi ahli bid’ah.

Ahli bid’ah adalah adalah mereka yang mengada-ada dalam urusan agama atau mengada-ada dalam perkara syariat atau mengada-ada dalam urusan yang merupakan hak Allah ta’ala menetapkannya yakni mereka yang melarang sesuatu yang tidak dilarangNya, mengharamkan sesuatu yang tidak diharamkanNya, mewajibkan sesuatu yang tidak diwajibkanNya atau mereka yang melakukan sunnah sayyiah yakni mencontohkan atau meneladankan sesuatu di luar perkara syariat yang bertentangan dengan Al Qur’an dan Hadits.
Dari Ibnu ‘Abbas r.a. berkata Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, “di dalam agama itu tidak ada pemahaman berdasarkan akal pikiran, sesungguhnya agama itu dari Tuhan, perintah-Nya dan larangan-Nya.” (Hadits riwayat Ath-Thabarani)
Dalam melarang, mengharamkan, mewajibkan sesuatu digunakanlah metodologi istinbat (menetapkan hukum perkara) namun dilakukan bagi mereka yang mempunyai kompetensi sebagai Imam Mujtahid.
Ahli bid’ah adalah mereka yang menganggap Allah Azza wa Jalla telah lupa
Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, “Sesungguhnya Allah telah mewajibkan beberapa kewajiban (ditinggalkan berdosa), maka jangan kamu sia-siakan dia; dan Allah telah memberikan beberapa larangan (dikerjakan berdosa)), maka jangan kamu langgar dia; dan Allah telah mengharamkan sesuatu (dikerjakan berdosa), maka jangan kamu pertengkarkan dia; dan Allah telah mendiamkan beberapa hal sebagai tanda kasihnya kepada kamu, Dia tidak lupa, maka jangan kamu perbincangkan dia.” (Riwayat Daraquthni, dihasankan oleh an-Nawawi)
Ahli bid’ah adalah mereka yang menyekutukan Allah sehingga Allah ta’ala menutup taubat mereka sampai mereka meninggalkan bid’ahnya.
Dari Anas r.a. berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam pernah bersabda : “Sesungguhnya Allah menutup taubat dari tiap-tiap orang dari ahli bid’ah sehingga ia meninggalkan bid’ahnya.” (H. R. Thabrani)
Ahli bid’ah adalah mereka yang menyekutukan Allah oleh karenanya mereka akan bertempat di neraka
Firman Allah Azza wa Jalla yang artinya, “Katakanlah! Tuhanku hanya mengharamkan hal-hal yang tidak baik yang timbul daripadanya dan apa yang tersembunyi dan dosa dan durhaka yang tidak benar dan kamu menyekutukan Allah dengan sesuatu yang Allah tidak turunkan keterangan padanya dan kamu mengatakan atas (nama) Allah dengan sesuatu yang kamu tidak mengetahui.” (QS al-A’raf: 32-33)
Dalam hadits Qudsi , Rasulullah bersabda: “Aku ciptakan hamba-hambaKu ini dengan sikap yang lurus, tetapi kemudian datanglah syaitan kepada mereka. Syaitan ini kemudian membelokkan mereka dari agamanya, dan mengharamkan atas mereka sesuatu yang Aku halalkan kepada mereka, serta mempengaruhi supaya mereka mau menyekutukan Aku dengan sesuatu yang Aku tidak turunkan keterangan padanya.” (Riwayat Muslim)
Mereka yang termakan hasutan atau korban ghazwul fikri (perang pemahaman) dari kaum Zionis Yahudi sehingga  mereka tanpa disadari telah bertasyabuh dengan kaum Nasrani menjadikan ulama-ulama mereka sebagai tuhan-tuhan  selain Allah
Allah Azza wa Jalla berfirman, “Mereka menjadikan para rahib dan pendeta mereka sebagai tuhan-tuhan selain Allah“. (QS at-Taubah [9]:31 )
Ketika Nabi ditanya terkait dengan ayat ini, “apakah mereka menyembah para rahib dan pendeta sehingga dikatakan menjadikan mereka sebagai tuhan-tuhan selain Allah?” Nabi menjawab, “tidak”, “Mereka tidak menyembah para rahib dan pendeta itu, tetapi jika para rahib dan pendeta itu menghalalkan sesuatu bagi mereka, mereka menganggapnya halal, dan jika para rahib dan pendeta itu mengharamkan bagi mereka sesuatu, mereka mengharamkannya“
Pada riwayat yang lain disebutkan, Rasulullah bersabda ”mereka (para rahib dan pendeta) itu telah menetapkan haram terhadap sesuatu yang halal, dan menghalalkan sesuatu yang haram, kemudian mereka mengikutinya. Yang demikian itulah penyembahannya kepada mereka.” (Riwayat Tarmizi)
Firman Allah ta’ala yang artinya,

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu haramkan apa-apa yang baik yang telah Allah halalkan bagi kamu dan janganlah kamu melampaui batas, sesungguhnya Allah tidak menyukai orang yang melampaui batas.” (Qs. al-Mâ’idah [5]: 87).
“Dan janganlah kamu mengatakan terhadap apa yang disebut-sebut oleh lidahmu secara dusta “Ini halal dan ini haram”, untuk mengada-adakan kebohongan terhadap Allah. Sesungguhnya orang-orang yang mengada-adakan kebohongan terhadap Allah tiadalah beruntung” [QS. An-Nahl : 116]
Mereka yang termakan hasutan atau korban ghazwul fikri (perang pemahaman) dari kaum Zionis Yahudi menolak adanya pembagian bid’ah dholalah dan bid’ah hasanah.
Tidak lama kemudian mereka terpaksa menciptakan jalan untuk memecahkan problem-problem yang mereka hadapi dan kondisi zaman yang mereka hadapi yang juga menekan mereka. Mereka terpaksa menciptakan perantara lain. Yang jika tanpa perantara ini mereka tidak  dapat melakukan aktifitas yang tidak pernah dilakukan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wasallam
Perantara ini ialah ungkapan yang dilontarkan dengan jelas : “Sesungguhnya bid’ah terbagi menjadi dua ; 1) bid’ah diniyah ( keagamaan ) 2) bid’ah duniawiyyah ( keduniaan ).”
Subhanallah, mereka yang suka bermain-main ini membolehkan menciptakan klasifikasi tersebut atau minimal telah membuat nama tersebut. Jika kita setuju bahwa pengertian ini telah ada sejak era kenabian namun pembagian ini, diniyyah dan duniawiyyah, sama sekali tidak ada dalam era pembuatan undang-undang kenabian. Lalu dari mana pembagian ini? dan dari mana nama-nama baru ini datang ?
Orang yang berkata bahwa pembagian bid’ah ke yang baik dan buruk itu tidak bersumber dari syari’, maka pembagian bid’ah ke bid’ah diniyyah yang tidak bisa diterima dan ke duniawiyyah yang diterima, adalah tindakan bid’ah dan mengada-ada yang sebenarnya.
Mereka yang berpendapat terbaginya bid’ah menjadi bid’ah diniyyah dan duniawiyyah tidak mampu menggunakan ekspresi bahasa dengan cermat. Hal ini disebabkan ketika mereka berpendapat  bid’ah duniawiyyah tidak ada konsekuensi apapun, mereka telah keliru dalam menetapkan hukum. Sebab dengan sikap ini mereka memvonis semua bid’ah duniawiyyah itu boleh. Sikap ini jelas sangat berbahaya dan bisa menimbulkan fitnah dan bencana.
Pantas saja mereka para pengikut Muhammad bin Abdul Wahhab menyerahkan sepenuhnya urusan dunia kepada penguasa dinasti kerajaan Saudi.
Dari Ibnu Abbas, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa memilih seseorang menjadi pemimpin untuk suatu kelompok, yang di kelompok itu ada orang yang lebih diridhai Allah dari pada orang tersebut, maka ia telah berkhianat kepada Allah, Rasul-Nya dan orang-orang yang beriman.” (HR. Hakim)
Mereka membiarkan penguasa kerajaan dinasti Saudi melanggar larangan dari Allah Azza wa Jalla yakni menjadikan Amerika yang merupakan representasi kaum Zionis Yahudi sebagai teman kepercayaan, pemimpin, pelindung maupun sebagai penasehat.
Firman Allah Azza wa Jalla, yang artinya,

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu ambil menjadi teman kepercayaanmu orang-orang yang, di luar kalanganmu (karena) mereka tidak henti-hentinya (menimbulkan) kemudharatan bagimu. Mereka menyukai apa yang menyusahkan kamu. Telah nyata kebencian dari mulut mereka, dan apa yang disembunyikan oleh hati mereka adalah lebih besar lagi. Sungguh telah Kami terangkan kepadamu ayat-ayat (Kami), jika kamu memahaminya” , (QS Ali Imran, 118)
“Beginilah kamu, kamu menyukai mereka, padahal mereka tidak menyukai kamu, dan kamu beriman kepada kitab-kitab semuanya. Apabila mereka menjumpai kamu, mereka berkata “Kami beriman”, dan apabila mereka menyendiri, mereka menggigit ujung jari antaran marah bercampur benci terhadap kamu. Katakanlah (kepada mereka): “Matilah kamu karena kemarahanmu itu”. Sesungguhnya Allah mengetahui segala isi hati“. (QS Ali Imran, 119)
“Tidakkah kamu perhatikan orang-orang yang menjadikan suatu kaum yang dimurkai Allah sebagai teman? Orang-orang itu bukan dari golongan kamu dan bukan (pula) dari golongan mereka. Dan mereka bersumpah untuk menguatkan kebohongan, sedang mereka mengetahui“. (QS Al Mujaadilah [58]:14 )
Mereka telah menjadi serupa dengan kaum Sekulerisme yang menyalahgunakan hadits,”wa antum a’lamu bi amri dunyakum,  “dan kamu sekalian lebih mengetahui urusan-urusan duniamu”.   (HR.  Muslim 4358)
Hadits selengkapnya,
حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ وَعَمْرٌو النَّاقِدُ كِلَاهُمَا عَنْ الْأَسْوَدِ بْنِ عَامِرٍ قَالَ أَبُو بَكْرٍ حَدَّثَنَا أَسْوَدُ بْنُ عَامِرٍ حَدَّثَنَا حَمَّادُ بْنُ سَلَمَةَ عَنْ هِشَامِ بْنِ عُرْوَةَ عَنْ أَبِيهِ عَنْ عَائِشَةَ وَعَنْ ثَابِتٍ عَنْ أَنَسٍ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَرَّ بِقَوْمٍ يُلَقِّحُونَ فَقَالَ لَوْ لَمْ تَفْعَلُوا لَصَلُحَ قَالَ فَخَرَجَ شِيصًا فَمَرَّ بِهِمْ فَقَالَ مَا لِنَخْلِكُمْ قَالُوا قُلْتَ كَذَا وَكَذَا قَالَ أَنْتُمْ أَعْلَمُ بِأَمْرِ دُنْيَاكُمْ
Telah menceritakan kepada kami Abu Bakr bin Abu Syaibah dan ‘Amru An Naqid seluruhnya dari Al Aswad bin ‘Amir; Abu Bakr berkata; Telah menceritakan kepada kami Aswad bin ‘Amir; Telah menceritakan kepada kami Hammad bin Salamah dari Hisyam bin ‘Urwah dari Bapaknya dari ‘Aisyah dan dari Tsabit dari Anas bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pernah melewati suatu kaum yang sedang mengawinkan pohon kurma lalu beliau bersabda: “Sekiranya mereka tidak melakukannya, kurma itu akan (tetap) baik”.  Tapi setelah itu, ternyata kurma tersebut tumbuh dalam keadaan rusak. Hingga suatu saat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam melewati mereka lagi dan melihat hal itu beliau bertanya: ‘Ada apa dengan pohon kurma kalian? Mereka menjawab; Bukankah anda telah mengatakan hal ini dan hal itu?  Beliau lalu bersabda: ‘Kalian lebih mengetahui urusan dunia kalian’ (HR Muslim 4358)
Kaum sekulerisme berpendapat urusan dunia tidaklah diurus oleh agama, terbukti dalam hadits tersebut Rasulullah salah memberikan nasehat dalam penanaman kurma berikut contoh pernyataan mereka selengkapnya,
**** awal kutipan *****

“Ketika Nabi shallalahu alaihi wasallam memberikan nasihat tentang cara mengawinkan pohon kurma supaya berbuah, ini bisa dianggap bahwa beliau sudah memasukkan otoritas agama untuk urusan duniawi yang di mana beliau tidak mendapatkan wahyu atau kewenangan untuk itu.
Tapi ternyata dalam masalah menanam kurma ini pendapat beliau keliru. Pohon kurma itu malah menjadi mandul. Maka para petani kurma itu mengadu lagi kepada Nabi saw, meminta pertanggungjawaban beliau. Dan beliau menyadari kesalahan advisnya waktu itu dan dengan rendah hati berkata, “Kalau itu berkaitan dengan urusan agama ikutilah aku, tapi kalau itu berkaitan dengan urusan dunia kamu, maka “Antum a’lamu bi umuri dunyaakum”, kamu sekalian lebih mengetahui urusan duniamu.
Rasulullah mengakui keterbatasannya. Rasulullah bukanlah penentu untuk segala hal. Rasul bukanlah orang yang paling tahu untuk segala hal. Bahkan untuk urusan dunia di jaman beliau pun beliau bukanlah orang yang paling tahu.
Jadi tidak mungkin jika kita menuntut Rasulullah untuk mengetahui segala sesuatu hal tentang urusan dunia. Apalagi kalau mengurusi urusan kita di jaman modern ini…! Tentu tidak mungkin kita harus mencari-cari semua aturan tetek-bengek dalam hadist beliau. Itu namanya set-back. Lha wong di jamannya saja Rasulullah menyatakan bahwa ada hal-hal yang tidak beliau pahami dan hendaknya tidak mengikuti pendapat beliau dalam ‘urusan duniamu’ tersebut.”

**** akhir kutipan *****
Dalam hadits di atas Rasulullah hanya memberikan tanggapan mengapa mesti kurma itu dikawinkan segala, mengapa tidak dibiarkan begitu saja secara alami. Hal ini dapat kita ketahui terkait firman Allah Azza wa Jalla,  “subhaana alladzii khalaqa al-azwaaja kullahaa mimmaa tunbitu al-ardhu” ,  “Maha Suci Tuhan yang telah menciptakan pasangan-pasangan semuanya, baik dari apa yang ditumbuhkan oleh bumi”  (QS Yaa Siin [36]:36).
Permasalahan kurma tersebut tumbuh dalam keadaan rusak tidaklah terkait dengan tanggapan Rasulullah.
Sedangkan makna perkataan Rasulullah,  “wa antum a’lamu bi amri dunyakum”,  “dan kamu sekalian lebih mengetahui urusan-urusan duniamu” ,  yang dimaksud “urusan dunia”  khusus urusan disiplin ilmu tertentu atau pengetahuan tertentu di luar ilmu agama, seperti dalam hadits tersebut adalah ilmu pertanian, ilmu pengetahuan manusia dalam membantu perkawinan kurma.
Namun ilmu pengetahuan yang didalami oleh manusia harus tetap merujuk dengan Al Qur’an dan Hadits dan menetapkannya dalam hukum taklifi yang lima (haram, makruh, wajib, sunnah, dan mubah).  Perbuatan merujuk dengan Al Qur’an dan Hadits termasuk ke dalam dzikrullah (mengingat Allah) sebagaimana Ulil Albab, muslim yang menggunakan lubb atau akal qalbu atau muslim yang menundukkan akal pikirannya kepada akal qalbu sebagaimana yang telah diuraikan dalam tulisan pada http://mutiarazuhud.wordpress.com/2012/01/29/tundukkan-akal-pikiran/
Ulil Albab sebagaimana firman Allah yang artinya,

“(yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka” (Ali Imran: 191).
“Allah menganugerahkan al hikmah (pemahaman yang dalam tentang Al Qur’an dan As Sunnah) kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan barangsiapa yang dianugerahi hikmah, ia benar-benar telah dianugerahi karunia yang banyak. Dan hanya Ulil Albab yang dapat mengambil pelajaran (dari firman Allah)“. (QS Al Baqarah [2]:269 ).
“Dan tidak dapat mengambil pelajaran (daripadanya) melainkan Ulil Albab” (QS Ali Imron [3]:7 )
Jadi urusan dunia yang tidak pernah dilakukan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wasallam termasuk dalam perkara baru (bid’ah) di luar perkara syariat atau di luar apa yang telah disyariatkanNya atau di luar apa yang telah diwajibkanNya.
Baik atau buruknya perkara baru (bid’ah) di luar perkara syariat  tidak boleh berdasarkan anggapan manusia atau berdasarkan akal pikiran manusia namun berdasarkan Al Qur’an dan Hadits.
Rasulullah shallallahu alaihi wasallam menyampaikan  baik atau buruk perkara baru di luar perkara syariat ke dalam  sunnah hasanah atau sunnah sayyiah.
حَدَّثَنِي زُهَيْرُ بْنُ حَرْبٍ حَدَّثَنَا جَرِيرُ بْنُ عَبْدِ الْحَمِيدِ عَنْ الْأَعْمَشِ عَنْ مُوسَى بْنِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ يَزِيدَ وَأَبِي الضُّحَى عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ هِلَالٍ الْعَبْسِيِّ عَنْ جَرِيرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ قَالَ جَاءَ نَاسٌ مِنْ الْأَعْرَابِ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَيْهِمْ الصُّوفُ فَرَأَى سُوءَ حَالِهِمْ قَدْ أَصَابَتْهُمْ حَاجَةٌ فَحَثَّ النَّاسَ عَلَى الصَّدَقَةِ فَأَبْطَئُوا عَنْهُ حَتَّى رُئِيَ ذَلِكَ فِي وَجْهِهِ قَالَ ثُمَّ إِنَّ رَجُلًا مِنْ الْأَنْصَارِ جَاءَ بِصُرَّةٍ مِنْ وَرِقٍ ثُمَّ جَاءَ آخَرُ ثُمَّ تَتَابَعُوا حَتَّى عُرِفَ السُّرُورُ فِي وَجْهِهِ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ سَنَّ فِي الْإِسْلَامِ سُنَّةً حَسَنَةً فَعُمِلَ بِهَا بَعْدَهُ كُتِبَ لَهُ مِثْلُ أَجْرِ مَنْ عَمِلَ بِهَا وَلَا يَنْقُصُ مِنْ أُجُورِهِمْ شَيْءٌ وَمَنْ سَنَّ فِي الْإِسْلَامِ سُنَّةً سَيِّئَةً فَعُمِلَ بِهَا بَعْدَهُ كُتِبَ عَلَيْهِ مِثْلُ وِزْرِ مَنْ عَمِلَ بِهَا وَلَا يَنْقُصُ مِنْ أَوْزَارِهِمْ شَيْءٌ
Telah menceritakan kepadaku Zuhair bin Harb telah menceritakan kepada kami Jarir bin ‘Abdul Hamid dari Al A’masy dari Musa bin ‘Abdullah bin Yazid dan Abu Adh Dhuha dari ‘Abdurrahman bin Hilal Al ‘Absi dari Jarir bin ‘Abdullah dia berkata; Pada suatu ketika, beberapa orang Arab badui datang menemui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dengan mengenakan pakaian dari bulu domba (wol). Lalu Rasulullah memperhatikan kondisi mereka yang menyedihkan. Selain itu, mereka pun sangat membutuhkan pertolongan. Akhirnya, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menganjurkan para sahabat untuk memberikan sedekahnya kepada mereka. Tetapi sayangnya, para sahabat sangat lamban untuk melaksanakan anjuran Rasulullah itu, hingga kekecewaan terlihat pada wajah beliau. Jarir berkata; ‘Tak lama kemudian seorang sahabat dari kaum Anshar datang memberikan bantuan sesuatu yang dibungkus dengan daun dan kemudian diikuti oleh beberapa orang sahabat lainnya. Setelah itu, datanglah beberapa orang sahabat yang turut serta menyumbangkan sedekahnya (untuk diserahkan kepada orang-orang Arab badui tersebut) hingga tampaklah keceriaan pada wajah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.’ Kemudian Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam bersabda: “Siapa yang melakukan satu sunnah hasanah dalam Islam, maka ia mendapatkan pahalanya dan pahala orang-orang yang mengamalkan sunnah tersebut setelahnya tanpa mengurangi pahala-pahala mereka sedikitpun. Dan siapa yang melakukan satu sunnah sayyiah dalam Islam, maka ia mendapatkan dosanya dan dosa orang-orang yang mengamalkan sunnah tersebut setelahnya tanpa mengurangi dosa-dosa mereka sedikitpun.” (HR Muslim 4830)

Hadits di atas diriwayatkan juga dalam  Sunan An-Nasa‘i no.2554, Sunan At-Tirmidzi no. 2675, Sunan Ibnu Majah no. 203, Musnad Ahmad 5/357, 358, 359, 360, 361, 362 dan juga diriwayatkan oleh yang lainnya.
Arti kata sunnah dalam sunnah hasanah atau sunnah sayyiah adalah contoh atau  suri tauladan atau perkara baru,  sesuatu yang tidak dilakukan oleh orang lain sebelumnya
Kesimpulannya,
Sunnah hasanah adalah contoh atau suri tauladan atau perkara baru di luar perkara syariat yang tidak bertentangan dengan Al Qur’an dan Hadits , termasuk ke dalam bid’ah hasanah
Sunnah sayyiah adalah contoh atau suri tauladan atau perkara baru di luar perkara syariat yang bertentangan dengan Al Qur’an dan Hadits , termasuk ke dalam bid’ah dholalah
Imam Mazhab yang empat yang bertalaqqi (mengaji) dengan Salaf Sholeh, contohnya Imam Syafi’i ~rahimahullah menyampaikan
قاَلَ الشّاَفِعِي رَضِيَ اللهُ عَنْهُ -ماَ أَحْدَثَ وَخاَلَفَ كِتاَباً أَوْ سُنَّةً أَوْ إِجْمَاعاً أَوْ أَثَرًا فَهُوَ البِدْعَةُ الضاَلَةُ ، وَماَ أَحْدَثَ مِنَ الخَيْرِ وَلَمْ يُخاَلِفُ شَيْئاً مِنْ ذَلِكَ فَهُوَ البِدْعَةُ المَحْمُوْدَةُ -(حاشية إعانة 313 ص 1الطالبين -ج )
Artinya ; Imam Syafi’i ra berkata –Segala hal yang baru (tidak terdapat di masa Rasulullah) dan bertentangan dengan Al-Qur’an, Al-Hadits, Ijma’ (sepakat Ulama) dan Atsar (Pernyataan sahabat) adalah bid’ah yang sesat (bid’ah dholalah). Dan segala kebaikan yang baru (tidak terdapat di masa Rasulullah) dan tidak bertentangan dengan pedoman tersebut maka ia adalah bid’ah yang terpuji (bid’ah mahmudah atau bid’ah hasanah), bernilai pahala. (Hasyiah Ianathuth-Thalibin –Juz 1 hal. 313).
Begitupula para Imam Mazhab (Imam Mujtahid Mutlak)  dalam beristinbat, menetapkan hukum perkara suatu perbuatan kedalam hukum taklifi yang lima (haram, makruh, wajib, sunnah, dan mubah) menghindari al-Maslahah al-Mursalah atau al-Istislah  yakni “Menetapkan hukum suatu masalah yang tak ada nash-nya atau tidak ada ijma’ terhadapnya, dengan berdasarkan pada kemaslahatan semata yang oleh syara’  (dalam Al Qur’an dan As Sunnah) tidak dijelaskan ataupun dilarang”
Menurut Imam Syafi’i  ra cara-cara penetapan hukum seperti  itu sekali-kali bukan dalil syar’i. Beliau menganggap orang yang menggunakannya  sama dengan menetapkan syari’at berdasarkan hawa nafsu atau berdasarkan pendapat sendiri (akal pikiran sendiri) yang mungkin benar dan mungkin pula salah.
Ibnu Hazm termasuk salah seorang ulama yang menolak cara-cara penetapan hukum seperti  itu Beliau menganggap bahwa cara penetapan seperti  itu menganggap baik terhadap sesuatu atau kemashlahatan menurut hawa nafsunya (akal pikiran sendiri), dan itu bisa benar dan bisa pula salah, dapat terjerumus kedalam mengharamkan sesuatu tanpa dalil.
Para ulama yang sholeh dalam menetapkan perkara baru sangat berpegang salah satunya pada firman Allah ta’ala yang artinya “Katakanlah! Tuhanku hanya mengharamkan hal-hal yang tidak baik yang timbul daripadanya dan apa yang tersembunyi dan dosa dan durhaka yang tidak benar dan kamu menyekutukan Allah dengan sesuatu yang Allah tidak turunkan keterangan padanya dan kamu mengatakan atas (nama) Allah dengan sesuatu yang kamu tidak mengetahui.” (QS al-A’raf: 32-33)
Wassalam

sumber: Piss.com

Originally posted on ******************** Dokumentasi T. Djamaluddin ******************** ======================================================== _____ Berbagi ilmu untuk pencerahan dan inspirasi _____:

T. Djamaluddin

LAPAN

lunar_eclipse_3-3-2007

Gambar rangkaian gerhana bulan total yang menampakkan bulan merah (dari earthsky.org)

“Bloodmoon” menjadi istilah media yang dikaitkan dengan gerhana bulan total yang menampakkan bulan berwarna merah darah, khususnya pada rangkaian empat gerhana bulan total 15 April 2014, 8 Oktober 2014, 4 April 2015, dan 28 September 2015. Seperti apa gerhana 8 Oktober 2014? Berikut ini rangkaian gerhana dari situs NASA dan hasil simulasi Stellarium:

Eclipse 8 oct 2014

Situs NASA memberikan informasi kejadian gerhana bulan 8 Oktober dimulai dengan fase gerhana sebagian mulai pukul 16:15 WIB, disusul fase total mulai 17:25 – 18:24 WIB, dan diakhiri dengan fase gerhana sebagian lagi sampai pukul 19:34 WIB. Dari waktu tersebut, jelas hanya Indonesia Timur yang bisa mengamatinya secara penuh. Di wilayah Barat Indonesia, ketika bulan terbit saat maghrib gerhana total sedang berlangsung.

Gerhana bulan diamati di ufuk Timur.

Gerhana diawali dengan tertutupnya bagian bawah bulan oleh bayangan bumi pada pukul 16:15 WIB (18:15…

View original 292 more words

Originally posted on tunas63:

Hasil PLPG 2014 Rayon 114 Unesa bagi guru Kemdikbud dan Kemenag gelombang  telah diumumkan. Sesuai  ketentuan, bagi yang belum lulus ada kesempatan mengikuti Ujian Ulang (UU) 2 kali.

Cek Hasil PLPG Sergu 2014

Untuk melihat hasil PLPG, peserta harus melihat secara online. Berikut petunjuknya:

1. Masuk web hasil PLPG  (silakan klik poster berikut)

sg unesa rayon 114 hasil plpg 2014

2. Masukkan nomor peserta, serta tgl, bulan, dan tahun lahir.

3. Klik “cari data kelulusan peserta”

Hasil Pencarian

Hasil pencarian data kelulusan ada dua kategori: L (Lulus PLPG), dan Ujian Ulang.

1. L (Lulus PLPG)

  • Bagi yang lulus, harap cek ejaan nama, tempat dan tanggal lahir untuk pencetakan sertifikat pendidik. Jika tidak sesuai hubungi panitia.

sg unesa rayon 114 hasil plpg 2014 (LULUS)

2. Ujian Ulang 1, terdiri UTN (Ujian Tulis Nasional), UTL (Ujian Tulis Lokal), UP (Ujian Praktik).

  • UU 1 akan dilaksanakan dalam satu hari, Sabtu tanggal 11 Oktober 2014 di kampus Unesa. Pukul, dan tempat (ruang ujian) disebutkan pada hasil pencarian data…

View original 89 more words

Tanya:
 Jika terjadi perbedaan dalam
menentukan tanggal 9 Dzulhijjah, antara
pemerintah Indonesia dengan Saudi,
mana yang harus diikuti? Kami bingung
dalam menentukan kapan puasa arafah?
Jawab:
Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma
ba’du
Ulama berbeda pendapat dalam masalah ini,
Pertama, puasa arafah mengikuti wuquf di arafah.
Ini merupakan pendapat Lajnah Daimah (Komite Fatwa dan
Penelitian Ilmiyah) Arab Saudi. Mereka berdalil dengan
pengertian hari arafah, bahwa hari arafah adalah hari
dimana para jamaah haji wukuf di Arafah. Tanpa
memandang tanggal berapa posisi hari ini berada.
Dalam salah satu fatwanya tentang perbedaan tanggal
antara tanggal 9 Dzulhijjah di luar negeri dengan hari wukuf
di arafah di Saudi, Lajnah Daimah menjelaskan,
ﻳﻮﻡ ﻋﺮﻓﺔ ﻫﻮ ﺍﻟﻴﻮﻡ ﺍﻟﺬﻱ ﻳﻘﻒ ﺍﻟﻨﺎﺱ ﻓﻴﻪ ﺑﻌﺮﻓﺔ، ﻭﺻﻮﻣﻪ ﻣﺸﺮﻭﻉ ﻟﻐﻴﺮ
ﻣﻦ ﺗﻠﺒﺲ ﺑﺎﻟﺤﺞ، ﻓﺈﺫﺍ ﺃﺭﺩﺕ ﺃﻥ ﺗﺼﻮﻡ ﻓﺈﻧﻚ ﺗﺼﻮﻡ ﻫﺬﺍ ﺍﻟﻴﻮﻡ، ﻭﺇﻥ
ﺻﻤﺖ ﻳﻮﻣﺎً ﻗﺒﻠﻪ ﻓﻼ ﺑﺄﺱ
Hari arafah adalah hari dimana kaum muslimin melakukan
wukuf di Arafah. Puasa arafah dianjurkan, bagi orang yang
tidak melakukan haji. Karena itu, jika anda ingin puasa
arafah, maka anda bisa melakukan puasa di hari itu (hari
wukuf). Dan jika anda puasa sehari sebelumnya, tidak
masalah. (Fatawa Lajnah Daimah, no. 4052)
Kedua, puasa arafah sesuai tanggal 9 Dzulhijjah di daerah
setempat
Karena penentuan ibadah yang terkait dengan waktu,
ditentukan berdasarkan waktu dimana orang itu berada.
Dan hari arafah adalah hari yang bertepatan dengan
tanggal 9 Dzulhijjah. Sehingga penentuannya kembali
kepada penentuan kalender di mana kaum muslimin berada.
Pendapat ini ditegaskan oleh Imam Ibnu Utsaimin. Beliau
pernah ditanya tentang perbedaan dalam menentukan hari
arafah. Kita simak keterangan beliau,
ﻭﺍﻟﺼﻮﺍﺏ ﺃﻧﻪ ﻳﺨﺘﻠﻒ ﺑﺎﺧﺘﻼﻑ ﺍﻟﻤﻄﺎﻟﻊ ، ﻓﻤﺜﻼ ﺇﺫﺍ ﻛﺎﻥ ﺍﻟﻬﻼﻝ ﻗﺪ ﺭﺅﻱ
ﺑﻤﻜﺔ ، ﻭﻛﺎﻥ ﻫﺬﺍ ﺍﻟﻴﻮﻡ ﻫﻮ ﺍﻟﻴﻮﻡ ﺍﻟﺘﺎﺳﻊ ، ﻭﺭﺅﻱ ﻓﻲ ﺑﻠﺪ ﺁﺧﺮ ﻗﺒﻞ ﻣﻜﺔ
ﺑﻴﻮﻡ ﻭﻛﺎﻥ ﻳﻮﻡ ﻋﺮﻓﺔ ﻋﻨﺪﻫﻢ ﺍﻟﻴﻮﻡ ﺍﻟﻌﺎﺷﺮ ﻓﺈﻧﻪ ﻻ ﻳﺠﻮﺯ ﻟﻬﻢ ﺃﻥ
ﻳﺼﻮﻣﻮﺍ ﻫﺬﺍ ﺍﻟﻴﻮﻡ ﻷﻧﻪ ﻳﻮﻡ ﻋﻴﺪ ، ﻭﻛﺬﻟﻚ ﻟﻮ ﻗﺪﺭ ﺃﻧﻪ ﺗﺄﺧﺮﺕ ﺍﻟﺮﺅﻳﺔ
ﻋﻦ ﻣﻜﺔ ﻭﻛﺎﻥ ﺍﻟﻴﻮﻡ ﺍﻟﺘﺎﺳﻊ ﻓﻲ ﻣﻜﺔ ﻫﻮ ﺍﻟﺜﺎﻣﻦ ﻋﻨﺪﻫﻢ ، ﻓﺈﻧﻬﻢ
ﻳﺼﻮﻣﻮﻥ ﻳﻮﻡ ﺍﻟﺘﺎﺳﻊ ﻋﻨﺪﻫﻢ ﺍﻟﻤﻮﺍﻓﻖ ﻟﻴﻮﻡ ﺍﻟﻌﺎﺷﺮ ﻓﻲ ﻣﻜﺔ ، ﻫﺬﺍ ﻫﻮ
ﺍﻟﻘﻮﻝ ﺍﻟﺮﺍﺟﺢ ، ﻷﻥ ﺍﻟﻨﺒﻲ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﻳﻘﻮﻝ ‏( ﺇﺫﺍ ﺭﺃﻳﺘﻤﻮﻩ
ﻓﺼﻮﻣﻮﺍ ﻭﺇﺫﺍ ﺭﺃﻳﺘﻤﻮﻩ ﻓﺄﻓﻄﺮﻭﺍ )
Yang benar, semacam ini berbeda-beda, sesuai perbedaan
mathla’ (tempat terbit hilal). Sebagai contoh, kemarin hilal
sudah terlihat di Mekah, dan hari ini adalah tanggal 9
Dzulhijjah. Sementara di negeri lain, hilal terlihat sehari
sebelum Mekah, sehingga hari wukuf arafah menurut warga
negara lain, jatuh pada tanggal 10 Dzulhijjah, maka pada
saat itu, tidak boleh bagi mereka untuk melakukan puasa.
Karena hari itu adalah hari raya bagi mereka.
Demikian pula sebaliknya, ketika di Mekah hilal terlihat
lebih awal dari pada negara lain, sehingga tanggal 9 di
Mekah, posisinya tanggal 8 di negara tersebut, maka
penduduk negara itu melakukan puasa tanggal 9 menurut
kalender setempat, yang bertepatan dengan tanggal 10 di
Mekah. Inilah pendapat yang kuat. Karena Nabi Shallallahu
‘alaihi wa sallam bersabda,
ﺇﺫﺍ ﺭﺃﻳﺘﻤﻮﻩ ﻓﺼﻮﻣﻮﺍ ﻭﺇﺫﺍ ﺭﺃﻳﺘﻤﻮﻩ ﻓﺄﻓﻄﺮﻭﺍ
Apabila kalian melihat hilal, lakukanlah puasa dan apabila
melihat hilal lagi, (hari raya), jangan puasa. (Majmu’
Fatawa Ibnu Utsaimin, volume 20, hlm. 28)
Dari keterangan di atas, kita bisa memahami bahwa
perbedaan penentuan hari arafah, kembali kepada dua
pertimbangan:
Pertama, apakah perbedaan tempat terbit hilal (Ikhtilaf
Mathali’) mempengaruhi perbedaan dalam penentuan
tanggal ataukah tidak.
Mayoritas ulama berpendapat bahwa dalam menentukan
tanggal awal bulan, kaum muslimin di seluruh dunia
disatukan. Sehingga perbedaan tempat terbit hilal tidak
mempengaruhi perbedaan tanggal.
Sementara sebagian ulama berpendapat bahwa perbedaan
mathali’ mempengaruhi perbedaan penentuan awal bulan di
masing-masing daerah. Ini meruakan pendapat Ikrimah, al-
Qosim bin Muhammad, Salim bin Abdillah bin Umar, Imam
Malik, Ishaq bin Rahuyah, dan Ibnu Abbas. (Fathul Bari,
4/123).
Dari dua pendapat ini, insyaaAllah yang lebih mendekati
kebenaran adalah pendapat kedua. Adanya perbedaan
tempat terbit hilal, mempengaruhi perbedaan penentuan
tanggal. Hal ini berdasarkan riwayat dari Kuraib – mantan
budak Ibnu Abbas –, bahwa Ummu Fadhl bintu al-Harits
(Ibunya Ibnu Abbas) pernah menyuruhnya untuk menemui
Muawiyah di Syam, dalam rangka menyelesaikan suatu
urusan.
Kuraib melanjutkan kisahnya,
Setibanya di Syam, saya selesaikan urusan yang dititipkan
Ummu Fadhl. Ketika itu masuk tanggal 1 ramadhan dan
saya masih di Syam. Saya melihat hilal malam jumat.
Kemudian saya pulang ke Madinah. Setibanya di Madinah
di akhir bulan, Ibnu Abbas bertanya kepadaku
“Kapan kalian melihat hilal?” tanya Ibnu Abbas.
“kami melihatnya malam jumat.” Jawab Kuraib.
“Kamu melihatnya sendiri?” tanya Ibnu Abbas.
“Ya, saya melihatnya dan masyarakatpun melihatnya.
Mereka puasa dan Muawiyahpun puasa.” Jawab Kuraib.
Ibnu Abbas menjelaskan,
ﻟﻜﻨﺎ ﺭﺃﻳﻨﺎﻩ ﻟﻴﻠﺔ ﺍﻟﺴﺒﺖ، ﻓﻼ ﻧﺰﺍﻝ ﻧﺼﻮﻡ ﺣﺘﻰ ﻧﻜﻤﻞ ﺛﻼﺛﻴﻦ ﺃﻭ ﻧﺮﺍﻩ
“Kalau kami melihatnya malam sabtu. Kami terus
berpuasa, hingga kami selesaikan selama 30 hari atau kami
melihat hilal Syawal.”
Kuraib bertanya lagi,
“Mengapa kalian tidak mengikuti rukyah Muawiyah dan
puasanya Muawiyah?”
Jawab Ibnu Abbas,
ﻻ ﻫﻜﺬﺍ ﺃﻣﺮﻧﺎ ﺭﺳﻮﻝ ﺍﻟﻠﻪ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ
“Tidak, seperti ini yang diperintahkan Rasulullah Shallallahu
‘alaihi wa sallam kepada kami.” (HR. Muslim 2580, Nasai
2111, Abu Daud 2334, Turmudzi 697, dan yang lainnya).
Kedua, batasan hari arafah
Sebagian ulama menyebutkan bahwa puasa arafah adalah
puasa pada hari di mana jamaah haji melakukan wukuf di
arafah. Tanpa mempertimbangkan perbedaan tanggal dan
waktu terbitnya hilal.
Sementara ulama lain berpendapat bahwa hari arafah
adalah hari yang bertepatan dengan tanggal 9 Dzulhijjah.
Sehingga sangat memungkinkan masing-masing daerah
berbeda.
Ada satu pertimbangan sehingga kita bisa memilih
pendapat yang benar dari dua keterangan di atas. Terlepas
dari kajian ikhtilaf mathali’ (perbedaan tempat terbit hilal)
di atas.
Kita sepakat bahwa islam adalah agama bagi seluruh alam.
Tidak dibatasi waktu dan zaman, sebelum tiba saatnya
Allah mencabut islam. Dan seperti yang kita baca dalam
sejarah, di akhir dakwah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam,
islam sudah tersebar ke berbagai penjuru wilayah, yang
jarak jangkaunya cukup jauh. Mekah dan Madinah kala itu
ditempuh kurang lebih sepekan. Kemudian di zaman para
sahabat, islam telah melebar hingga dataran syam dan
Iraq. Dengan alat transportasi masa silam, perjalanan dari
Mekah menuju ujung wilayah kaum muslimin, bisa
menghabiskan waktu lebih dari sebulan.
Karena itu, di masa silam, untuk mengantarkan sebuah info
dari Mekah ke Syam atau Mekah ke Kufah, harus
menempuh waktu yang sangat panjang. Berbeda dengan
sekarang, anda bisa menginformasikan semua kejadian
yang ada di tanah suci ke Indonesia, hanya kurang dari 1
detik. Sehingga orang yang berada di tempat sangat jauh
sekalipun, bisa mengetahui kapan kegiatan wukuf di arafah,
dalam waktu sangat-sangat singkat.
Di sini kita bisa menyimpulkan, jika di masa silam standar
hari arafah itu mengikuti kegiatan jamaah haji yang wukuf
di arafah, tentu kaum muslimin yang berada di tempat yang
jauh dari Mekah, tidak mungkin bisa menerima info tersebut
di hari yang sama, atau bahkan harus menunggu beberapa
hari.
Jika ini diterapkan, tentu tidak akan ada kaum muslimin
yang bisa melaksanakan puasa arafah dalam keadaan
yakin telah sesuai dengan hari wukuf di padang arafah.
Karena mereka yang jauh dari Mekah sama sekali buta
dengan kondisi di Mekah.
Ini berbeda dengan masa sekarang. Hari arafah sama
dengan hari wukuf di arafah, bisa dengnan mudah
diterapkan. Hanya saja, di sini kita berbicara dengan
standar masa silam dan bukan masa sekarang. Karena
tidak boleh kita mengatakan, ada satu ajaran agama yang
hanya bisa diamalkan secara sempurna di zaman teknologi,
sementara itu tidak mungkin dipraktekkan di masa silam.
Oleh karena itu, memahami pertimbangan di atas, satu-
satunya yang bisa kita jadikan acuan adalah penanggalan.
Hari arafah adalah hari yang bertepatan dengan tanggal 9
Dzulhijjah, dan bukan hari jamaah haji wukuf di Arafah.
Dengan prinsip ini, kita bisa memahammi bahwa syariat
puasa arafah bisa dipraktekkan kaum muslimin di seluruh
penjuru dunia tanpa mengenal batas waktu dan tempat.
Allahu a’lam.
Dijawab oleh: Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina
Konsultasisyariah.com)
*sumber: http://www.konsultasisyariah.com/puasa-arafah-
berbeda-dengan-hari-arafah/
TAMBAHAN PENTING:
 Ketika Nabi SAW puasa tgl 9 dzilhijjah
ternyata belum ada umat Islam yang
wuquf di Arafah. Sebab ibadah haji baru
terlaksana di tahun ke10 hijriyah.
Sementara puasa 9 dzulhijjah sudah
disyariatkan sejak tahun ke2 hijriyah
menurut sebagian riwayat. Jadi beliau
SAW bukan puasa Arafah tetapi puasa 9
dzulhijjah. (Ustadz Ahmad Sarwat)

PERBEDAAN TANGGAL

Ummul Fadhl binti Harits pernah mengutus Kuraib ke Syam, lalu beliau pulang dari Syam ke Madinah di akhir bulan.

Ibnu Abbas bertanya kepadanya tentang hilal, Kuraib menjawab: “Kami melihatnya malam jum’at”.

“Kamu melihatnya sendiri?” tanya Ibnu Abbas.

“Ya, saya & masyarakat (syam) melihatnya ”. Jawab Kuraib

Ibnu Abbas berkata: “Tetapi kami melihatnya malam sabtu (dimadinah), maka kami tetap berpuasa sampai menyempurnakan tiga puluh hari atau melihat hilal (sampai hari Sabtu)”.

Kuraib bertanya: “Mengapa engkau tidak mengikuti ru’yah Syam ?”

Ibnu Abbas menjawab: “Tidak demikian Rasulullah memerintahkan kepada kami”. (HR. Muslim 2580, Nasai 2111, Abu Daud 2334, Turmudzi 697, dll)

Jelas hadits ini menyebutkan bahwa sesuai petunjuk Rasulullah saw, Ibnu Abbas (di Madinah) tidak mengambil ru’yah Muawiyah (di Syam, kini Suriah), padahal keduanya perbedaan jarak dan waktunya sangat dekat.

Maka setiap negara mengambil ru’yah negaranya sendiri, bukan ru’yah Negara lainnya”. (Lihat al-Mufhim al-Qurthubi 3/142, al-Jami’ li Ahkamil Qur’an al-Qurthubi 2/295,Nailul Author asy-Syaukani 4/230)

Ternyata…

Ketika Nabi SAW puasa tgl 9 dzulhijjah belum ada umat Islam yg wuquf di Arafah. Sebab ibadah haji baru terlaksana di tahun ke-10 hijriyah (baca : Zaadul maad II : 101, Manarul qari III : 64).

Sedangkan puasa 9 dzulhijjah sudah disyariatkan sejak tahun ke-2 hijriyah jauh sebelum wukuf haji disyariatkan (baca : shubhul a’sya II : 444, Bulughul Amani Juz VI : 119, Subulus salam I : 60).

Jelas, penamaan shaum Arafah bukan karena fi’lun (wukuf di Arafah dalam ibadah haji).

Dan istilah “Arafah” hanya sekedar mim bab Taghlib (penggunaan istilah untuk sesuatu yg biasa atau banyak dipakai) dan Arafah adalah ismul yaum (nama hari) ke 9 (tis’a) dibulan dzulhijah.

Sudah sangat jelas dan terang benderang penjelasannya tanpa keraguan sedikitpun.

Jadi, di Indonesia shaum Arafah adalah hari Sabtu 4 Okt dan Idul Adha hari Ahad 5 Okt.

TAKUT

Hadis riwayat Aisyah ra. istri Nabi saw.:
Rasulullah saw. bersabda: Wahai Aisyah! Sesungguhnya Allah itu Maha Lembut yang menyukai kelembutan. Allah akan memberikan kepada orang yang bersikap lembut sesuatu yang tidak diberikan kepada orang yang bersikap keras dan kepada yang lainnya

Kita tidak lalai akan do’a yang satu ini : “Ya Dzat yang membolak-balikkan hati, tetapkanlah diriku dalam Agama-Mu dan dalam Ketaatan kepada-Mu”.

Begitulah, menjaga kondisi hati untuk senantiasa istiqomah berada di jalan Allah, senantiasa bersih dari segala kotoran dan lembut dari segala kekerasan (hati), tidaklah mudah. Kesibukan dan rutinitas kita yang menguras tenaga dan pikiran, serta interaksi yang terus menerus dengan masalah duniawi, jika tidak diimbangi dengan “makanan-makanan” hati, terkadang membuat hati menjadi keras, kering, lalu mati… Padahal sebagai seorang mukmin, dalam melihat berbagai macam persoalan kehidupan, haruslah dengan mata hati yang jernih.

Untuk itu, beberapa nashehat berikut patut kita renungi dalam upaya melembutkan hati. Kita hendaknya senantiasa:

  1. Takut akan datangnya maut secara tiba-tiba sebelum kita sempat bertaubat.
  2. Takut tidak menunaikan hak-hak Allah secara sempurna. Sesungguhnya hak-hak Allah
    itu pasti diminta pertanggung jawabannya.
  3. Takut tergelincir dari jalan yang lurus, dan berjalan di atas jalan kemaksiatan dan jalan
    syaithan. Supaya tidak tergelincir, maka kita harus mempunyai ilmu.
  4. Takut bila kita memandang remeh atas banyaknya nikmat Allah pada diri kita.
  5. Takut akan balasan siksa yang segera di dunia, karena maksiat yang kita lakukan. Karena bila kita bermaksiat kepada Allah , maka Allah bisa jadi membalas maksiat kita di dunia dan di akhirat nanti balasannya lebih pedih, sedangkan balasan di dunia sebenarnya jauh lebih ringan dibanding bila balasannya di akhirat kelak
  6. Takut mengakhiri hidup dengan su’ul khatimah / atau kematian yang buruk disaat kita lalai atau mati dalam keadaan tidak beriman.
  7. Takut menghadapi sakaratul maut dan sakitnya sakaratul maut.
  8. Takut menghadapi pertanyaan malaikat Munkar dan Nakir di dalam kubur. Ingatlah bahwa, meskipun kita sudah hafal akan pertanyaan kubur dan jawabannya, tetapi jika lisan kita tidak di teguhkan Allah, maka kita tidak akan bisa menjawabnya dengan benar.
  9. Takut akan adzab dan prahara di alam kubur.
  10. Takut menghadapi pertanyaan hari kiamat atas dosa besar dan dosa kecil yang kita
    lakukan. Ingatlah bahwa semua aib dan kemaksiatan kita akan di beritahukan dan di ungkap di yaumul qiyamah.
  11. Takut melalui titian yang tajam. Sesungguhnya titian itu lebih halus daripada rambut
    dan lebih tajam dari pedang.
  12. Takut dijauhkan dari memandang wajah Allah.
  13. Perlu untuk mengetahui tentang dosa dan aib diri kita sendiri.
  14. Takut terhadap nikmat Allah yang kita rasakan siang dan malam sedang kita tidak bersyukur.
  15. Takut tidak diterima amalan-amalan dan ucapan-ucapan kita. Karena bisa jadi kita melakukan amalan dan sia-sia atau tertolak.
  16. Takut bahwa Allah tidak akan menolong dan membiarkan kita sendiri.
  17. Kekhawatiran kita menjadi orang yang tersingkap aibnya pada hari kematian dan pada
    hari timbangan ditegakkan.
  18. Hendaknya kita mengembalikan urusan diri kita, anak-anak, keluarga, suami dan harta kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dan jangan kita bersandar dalam memperbaiki
    urusan ini kecuali pada Allah.
  19. Sembunyikanlah amal-amal kita dari riya’ ke dalam hati, karena terkadang riya’ itu
    memasuki hati kita, sedang kita tidak merasakannya. Hasan Al Basri rahimahullah
    pernah berkata kepada dirinya sendiri. “Berbicaralah engkau wahai diri. Dengan
    ucapan orang sholeh, yang qanaah lagi ahli ibadah. Dan janganlah engkau melaksanakan amal seperti amalan orang fasik dan riya’. Demi Allah, ini bukan sifat orang mukhlis”.
  20. Jika kita ingin sampai pada derajat ikhlas maka hendaknya akhlak kita seperti akhlak
    seorang bayi yang tidak peduli orang yang memujinya atau membencinya.
  21. Hendaknya kita memiliki sifat cemburu ketika larangan-larangan Allah diremehkan.
  22. Ketahuilah bahwa amal sholeh dengan keistiqomahan jauh lebih disukai Allah
    daripada amal sholeh yang banyak tetapi tidak istiqomah dengan tetap melakukan
    dosa.
  23. Ingatlah setiap kita sakit bahwa kita telah istirahat dari dunia dan akan menuju akhirat
    dan akan menemui Allah dengan amalan yang buruk.
  24. Hendaknya ketakutan pada Allah menjadi jalan kita menuju Allah selama kita sehat.
  25. Setiap kita mendengar kematian seseorang maka perbanyaklah mengambil pelajaran
    dan nasihat. Dan jika kita menyaksikan jenazah maka khayalkanlah bahwa kita yang
    sedang diusung.
  26. Hati-hatilah menjadi orang yang mengatakan bahwa Allah menjamin rezeki kita
    sedang hatinya tidak tenteram kecuali sesuatu yang ia kumpul-kumpulkan. Dan
    menyatakan sesungguhnya akhirat itu lebih baik dari dunia, sedang kita tetap
    mengumpul-ngumpulkan harta dan tidak menginfakkannya sedikit pun, dan
    mengatakan bahwa kita pasti mati padahal dia tidak pernah ingat mati.
  27. Lihatlah dunia dengan pandangan I’tibar (pelajaran) bukan dengan pandangan
    mahabbah (kecintaan) kepadanya dan sibuk dengan perhiasannya.
  28. Ingatlah bahwa kita sangat tidak kuat menghadapi cobaan dunia. Lantas apakah kita
    sanggup menghadapi panasnya jahannam?
  29. Di antara akhlak wanita mu’minah adalah menasihati sesama mu’minah.
  30. Jika kita melihat orang yang lebih besar dari kita, maka muliakanlah dia dan katakan
    kepadanya, “Anda telah mendahului saya di dalam Islam dan amal sholeh maka dia
    jauh lebih baik di sisi Allah. Namun bila Anda keluar ke dunia setelah saya, maka dia lebih baik di sisi Allah karena lebih sedikit sedikit dosanya dari saya dan mereka lebih baik dari saya di sisi Allah.”

Semoga bermanfaat, Wallohu Taala Alam

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 219 pengikut lainnya.